PRAKATA
Syukur
Alhamdulillah kami ucapkan kehadirat Allah Swt yang telah melimpahkan rahmat
dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Tuntunan
Berpuasa”.
Shalawat
dan salam kepada junjungan Nabi Besar Muhammad saw. beserta keluarga dan
sahabat–sahabatnya yang telah memperjuangkan Agama Islam.
Kemudian
dari pada itu, kami sadar bahwa dalam menyusun makalah ini banyak yang membantu
terhadap usaha kami, mengingat hal itu dengan segala hormat kami sampaikan rasa
terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada teman kami yang ikut berpartisipasi
dalam penyelesaian makalah.
Atas bimbingan, petunjuk dan
dorongan tersebut kami hanya dapat berdo'a dan memohon kepada Allah Swt semoga
amal dan jerih payahnya menjadi amal soleh di mata Allah Swt. Amin.
Setitik harapan dari kami, semoga
makalah ini dapat bermanfaat serta bisa menjadi wacana yang berguna. Kami
menyadari keterbatasan yang penyusun miliki. Untuk itu, kelompok kami
mengharapkan dan menerima segala kritik dan saran yang membangun demi perbaikan
dan penyempurnaan makalah ini.
Jepara, 6 Desember 2019
Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
Allah telah menegaskan di dalam kitabNya
surat Al-Baqaroh ayat 183 sebagai berikut: “Hai orang-orang yang
beriman,diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana yang diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu agara kamu bertaqwa”
Rasulullah juga telah bersabda sebagaimana
yang telah diriwayatkan oleh imam ibnu majah dan baihaqi dari Abdurrahman bin
Auf ra.sebagai berikut:
“bulan ramadhan adalah bulan dimana allah
telah mewajibkan atas kamu untuk berpuasa. Aku telah mencontohkan sholat malam
didalamnya untuk kamu. Oleh sebab itu, barangsiapa yang berpuasa di siang
harinya dan mendirikan sholat dimalam harinya, semata-mata hanya untuk beriman
kepada allah dan mengharap pahala darinya maka akan diampuni dosa-dosanya
sebagaimana keadaanya ketika dilahirkan dari perut ibunya”
Puasa adalah rukun islam yang ke empat yang
mana wajib bagi semua orang muslim. Apabila ditnggalkan mendapatkan dosa
apabila dilakukan mendapatkan pahala. Maka dari itu perlu bagi kita umat muslim
mengetahui tata cara berpuasa yang baik dan benar menurut ajaran syariat yang
telah di tetapkan oleh para ulama.
1. Apa pengertian dari puasa ?
2. Bagaimana tatacara berpuasa ramadhan ?
3. Bagaimana tatacara berpuasa sunnah ?
1. Untuk mengetahui pengertian berpuasa
2. Untuk mengetahui tatacara berpuasa di bulan
ramadhan
3. Untuk mengetahui tatacara berpuasa sunnah
BAB
II
PEMBAHASAN
Puasa menurut bahasa ialah “menahan” sedangkan
menurut syara’ ialah “Menahan nafsu dari setiap perkara yang membatalkan puasa
,dengan memenuhi syarat yang akan diterangkan”.[1]
Puasa menurut bahasa adalah “menahan” dan menurut
syara’ adalah “menahan sesuatu dari perkara yang membatalkan puasa disertai
dengan niat tertentu sepanjang siang hari yang bias menerima puasa dari orang
muslim yang berakal dan suci dari haid dan nifas.[2]
B. Tuntunan
puasa ramadhan
Puasa di bulan ramadhan adalah suatu
kewajiban bagi setiap muslim yang mukallaf dan tidak sah puasanya orang yang
haid dan orang yang nifas dan menjadi suatu kewajiban bagi orang haid dan nifas
untuk mengqodo’i puasa tersebut. Bagi orang yang bepergian (musafir yang
mendapatkan keringanan qoshor) boleh membatalkan atau meneruskan puasannya. Bagi
orang yang sakit, hamil dan orang yang menyusui boleh membatalkan puasa, akan
tetapi orang-orang tersebut wajib untuk mengqodo’inya[3].
Bagi orang tua yang sudah tidak mampu berpuasa dan orang sakit yang tidak ada
harapan untuk sembuh maka diperkenankan untuk tidak berpuasa, akan tetapi
membayar kafaroh berupa memberi makan orang miskin satu mud[4].
Syarat wajib berpuasa ada 4:
1. Islam
2. Baliq
3. Mampu untuk berpuasa
4. Berakal
Fardhu-fardhunya puasa ada 4 :
1. Niat
2. Menahan dari makan dan minum
3. Menahan untuk melakukan jima’
4. Menahan dari sengaja muntah-muntah[5]
Perkara yang membatalkan puasa itu ada 9 :
1. Masuknya sesuatu kedalam perut dengan
sengaja
2. Sengaja munhtah-muntah
3. Sengaja melakukan wathi
4. Murtad
5. Haid
6. Nifas
7. Keluarnya sperma sebab bersentuhannya kulit
(onani)
8. Gila
9. Masuknya sesuatu ke dalam kubul dan dubur[6]
Dan diantara lagi perkara yang dapat membatalkan puasa
menurut ijma’ sebagian ulama adalah sebagai berikut:
1. Berdusta
2. Ghibah (menyebut kejelekan orang lain
dimuka orang lain
3. Saling mencaci maki[7]
Hal yang disunnahkan untuk berpuasa ada 3:
1. Menyegerakan berbuka
2. Mengakhirkan sahur
3. Meninggalkan perkataan yang jelek[8]
Hari-hari
yang diharamkan untuk berpuasa:
1. Hari raya idul fitri dan idul adha.
2. Hari tasyrik 11, 12 dan 13.[9]
BAB
III
PENUTUP
Puasa adalah suatu amal ibadah untuk
mendekatkan diri kepada Allah, dengan cara menahan diri dari makan minum maupun
hawa nafsu atau syahwat. Mulai dari fajar sampai adzan maghrib disertai dengan
niat karena allah.
Puasa dilakukan pada bulan atau hari yang
sudah ditetapkan oleh syara’, bukan pada hari-hari yang telah diharamkan untuk
berpuasa. Puasa juga memiliki banyak hikmah diantaranya adalah mengendalikan
hawa nafsu, membentengi agar tidak berbuat maksiat yang mana akan membatalkan
puasa.
DAFTAR
PUSTAKA
sulamuttaufiq. (n.d.). Husain bin abdullah.
darurrohmah al islamiyah.
syuja', a. (2013). taqrib. tuban: kampoengkyai.
zainuddin, A. m. (1994). terjemah faithul mu'in.
Bandung : sonar baru algensindo.
zainuddin, A. m. (n.d.). terjemah irsyadul ibad.
Surabaya : pustaka Agung harapan.
[1]
Zainuddin bin abdul aziz al-malibari ,Terjemah Fathul Mu’in (Bandung:PT sinar
baru algeshindo), hlm 607
[2]
Abi syuja’ ahmad bin Husain bin ahmad al asfihani ,Matan Taqrib Wal Ghoyah (Tuban:
kampoeng kyai 2013) hlm 46
[3]
Abdullah bin Husain, Matan sulamuttaufiq, (Indonesia: darurrohmah al islamiyah)
hlm 32.
[4]
Ibd, hlm 130.
[5]
Ibd, hlm 46.
[6]
Zainuddin bin abdul aziz al-malibari, Terjemah irsyadul ibad (Bandung:PT sinar
baru algeshindo), hlm, 238
[7]
Ibd, hlm 239
[8]
Abi syuja’ ahmadsu
[9]
Ibd, hlm 48
0 Komentar