ENTAH sudah berapa ratus kali penyebab dan upaya pencegahan banjir dibahas dalam seminar, baik yang berskala lokal maupun nasional. Dari yang melibatkan akademisi kampus hingga pakar mancanegara. Faktanya, hingga kini banjir masih terjadi. Terbaru, hujan yang turun nyaris tanpa henti di kawasan Puncak, Bogor, Depok, Jakarta dan wilayah sekitarnya sejak sore menjelang malam pergantian tahun, membawa 'kado' Tahun Baru, berupa air bah bagi warga Jabodetabek pada Rabu (1/1) lalu.
Banjir, sesungguhnya bukanlah bencana alam seperti halnya gempa bumi atau tsunami. Dia adalah sisa air hujan yang berlimpah namun gagal menyesap ke tanah atau mengalir ke laut, sehingga menggenangi daratan. Sesuai sifatnya, air bergerak dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah. Itu sudah hukum alam. Makanya, saya sepakat dengan Gubernur DKI Anies Baswedan bahwa persoalan banjir ialah persoalan manajemen air. Namun, tidak elok juga jika menuding persoalan utamanya ada di hulu, entah itu Bogor atau pun Depok. Sebab, berkurangnya daerah resapan di kedua wilayah itu, juga terjadi di Jakarta dan berkorelasi dengan persoalan demografi, termasuk penduduk ibu kota.
Ketika Belanda membangun Batavia, wilayah di Puncak, Bogor, dan Depok, memang tidak sepadat seperti sekarang. Saat itu pun terdapat sejumlah situ di wilayah tersebut. Namun demikian, mereka tetap menyiapkan dan membangun kanal-kanal sebagai wadah untuk air lewat di Batavia menuju kawasan Bina Ria atau yang disebut Ancol sekarang. Sebagai pemangku kepentingan kota yang wilayahnya dilalui sejumlah sungai, Anies seharusnya juga memikirkan bagaimana air bisa bermuara di teluk Jakarta dengan lancar tanpa perlu berlama-lama bertamu tanpa kulonuwun di rumah warga.
0 Komentar